Sikap Kita Terhadap Fenomena dan Mitos Yang Dikaitkan dengan Kematian Soeharto
Sejak beberapa hari terakhir terlebih setelah mantan presiden Soeharto meninggal banyak tulisan maupun berita yang (entah apakah karena mencari rating atau popularitas, ataupun menaikkan traffic, atau memang ada yang meyakininya dengan sungguh-sungguh) mengkait-kaitkan mitos dan fenomena alam yang terjadi dalam dua hari ini semenjak kematian pak Harto.
Diantaranya :
1. Begitu Tersiar kabar meninggalnya Suharto, langit Jakarta langsung mendung bahkan hujan padahal sudah berhari-hari tidak hujan di sana.
2. Astana Giri Bangun di Karanganyar Solo Juga diberitakan demikian sore harinya, hujan juga turun setelah jenazah dikebumikan keesokan harinya.
3. Gempa 5.2 skala richter mengguncang Yogyakarta tempat kelahiran pak Harto sore tersebut.
4. Adanya mitos hari meninggal pak Harto 27 Januari adalah hari yang sering di hindari olehnya untuk beraktifitas. Beritanya di sini dan di sini
5. Mitos-mitos lainnya misalnya tentang jam kematian dan beberapa hal lainnya di sini
6. Atau fenomena dan mitos lain yang berhubungan dengan kematian/kelahiran seseorang yang banyak berredar di masyarakat.
Ada yang membuat opini bahwa alam berduka menyambut kematian tersebut, ada juga yang nulis kalau alam menolak jasadnya dan lain sebagainya.
Kalau kita mau menelusuri Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallama sudah menjelaskan tentang hal ini, hal mengenai tidak ada hubungannya kematian/sakit seseorang dengan bencana/fenomena alam. Kita bisa lihat dalam satu riwayat, salah seorang anak laki-laki Rasululloh SAW, Ibrahim, meninggal. Ketika itu terjadi gerhana matahari. Sebagian umat muslim saat itu, karena masih adanya warisan budaya jahiliyah, menganggap alam ikut ‘berduka’ karena kematian Ibrahim.
Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallama dengan tegas menafikan hal ini.
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia bercerita bahwa pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi gerhana matahari, lalu beliau mengerjakan shalat bersama orang-orang. Maka beliau berdiri dan memanjangkan waktu berdiri, lalu beliau ruku dan memanjangkannya. Kemudian beliau berdiri dan memanjangkannya –berdiri yang kedua ini tidak selama berdiri pertama-. Setelah itu, beliau ruku dan memanjangkan ruku, ruku-nya ini lebih pendek dari ruku pertama. Selanjutnya, beliau sujud dan memanjangkannya. Kemudian beliau mengerjakan pada rakaat kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat pertama. Setelah itu, beliau berbalik sedang matahari telah muncul. Lalu beliau memberikan khutbah kepada orang-orang. Beliau memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Allah. Dan setelah itu, beliau bersabda.
“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. Setelah itu, beliau bersabda : “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hambaNya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani]
Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di beberapa tempat, yang diantaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Ash-Shadaqah fil Kusuuf (hadits no. 1044). Dan redaksi di atas adalah miliknya. Dan juga Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf (hadits no. 901).Kepercayaan bahwa suatu fenomena alam terjadi karena adanya orang besar, atau orang sakti yang meninggal jika tidak diluruskan bisa menjurus ke arah kepercayaan syirik.
Jadi fenomena alam tersebut tetap akan terjadi jika Allah sudah menetapkannya meskipun tidak terjadi atau tidak bersamaan dengan kematian atau kelahiran seseorang. Yang bisa katakan adalah bahwa Allah sudah menghendaki adanya peristiwa tersebut di hari tersebut dan juga menghendaki kematian seseorang itu di hari tersebut juga .
Mengenai mitos adanya angka yang dihindari(angka sial?), terlepas apakah hal ini benar dipercayai pak Harto ataupun tidak (semoga saja tidak), hal ini juga perlu diluruskan karena bisa menjurus kearah kepercayaan dan juga rasa takut yang berbuntut kepada kesyirikan. Karena tidak ada hari atau waktu yang sial karena pada hakekatnya mencela hari sebagai hari yang sial berarti mencela sang pencipta hari dan waktu yaitu Allah Subhaanahu wa ta’aala dan ini adalah peringatan dan nasehat bagi yang masih hidup. Wallahu a’lam bishshowab.





Kalau kamu suka blog ini silakan subscribe ke rss feed
Comments: 5 comments
Saya sangat senang dan suka kalau anda mau menulis komentar anda di bawah. Setiap isian yang bertanda REQ berarti required artinya wajib di isi
Rommy
January 29th, 2008 at 7:13 pm
yang jadi pertanyaan memang kadang manusia itu sendiri masih mempercayai hal hal ghoib yang sebenernya ditentang oleh Allah….sudah beribadah kok masih percaya gituan..
The Phenomena kok ga buka komentar gimana, what’s wrong with your’s blog
http://thephenomena.wordpress.com/2008/01/29/misteri-kematian-soeharto-ada-apa-di-balik-kematian-soeharto/
Robert Manurung
January 31st, 2008 at 12:00 pm
Pertanyaan seterusnya : Kenapa alam sedih dengan kematian Soeharto ? Sedih karena kematian itu atau karena lanjutannya ?
salam kenal
RM
http://ayomerdeka.wordpress.com/
M E R D E K A
aburifqi
January 31st, 2008 at 4:52 pm
Alam tidaklah bersedih karena kematian Suharto, yang bersedih adalah keluarganya….
Semua Fenomena alam tidak ada hubungannya dengan kematian bapak tersebut melainkan semua terjadi karena kehendak-Nya. Ini yang saya yakini.
Tigis
February 16th, 2008 at 8:31 am
Hanya kematian satu orang yang bisa membuat alam bersedih. Vety vera. Kan mereka sodara’an….^_^
aburifqi
February 16th, 2008 at 8:10 pm
Iya ente ini kalau artis apal semua….
Giliran hal yang mestinya di hafal…..
Leave a reply